Pusat Penelitian Nuklir Eropa (CERN) pada 4 Juli lalu mengumumkan
keberhasilan menemukan partikel Higgs-Boson. Zat ini kerap disebut
'partikel Tuhan' lantaran bisa membantu manusia menjelaskan asal-usul
alam semesta. Para ilmuwan sedunia bersorak dan menyebut revolusi ilmu
pengetahuan terjadi.
Di balik hebohnya penemuan ini, ternyata ada
dua peneliti asal Indonesia ikut berpartisipasi di antara enam ribu
lebih ilmuwan di CERN. Salah satunya adalah Suharyo Sumowidagdo, ilmuwan
lulusan Universitas Indonesia yang menempuh studi tingkat doktoral di
University of California Riverside, Amerika Serikat. Pria yang akrab
disapa Haryo ini merancang perangkat lunak buat memantau partikel
Higgs-Boson di Laboratorium CERN, Kota Jenewa, Swiss, sejak empat tahun
lalu.
Informasi mengenai data pribadi Haryo sulit dicari di
Internet. Hal ini diakui olehnya. Pengelola situs penggemar fisika ini
mengaku tidak terlalu suka bercerita soal pribadi. "Yang penting apa
yang saya lakukan," ujar dia.
Sejak menempuh kuliah di Jurusan
Fisika Universitas Indonesia, Haryo telah menekuni bidang fisika
partikel eksperimental. Bidang fokus pada penciptaan alat untuk
membuktikan teori-teori soal gejala alam.
Haryo menyatakan
sepanjang sejarah republik ini berdiri, cuma ada lima orang yang
menekuni bidang studi sepertinya. Tiga orang lebih senior dari dia,
sementara satu lagi bernama Rahmat, adalah rekan seangkatan dan kini
sama-sama mengabdi di CERN.
Dia pun menjelaskan ambisinya dan harapannya pada pengembangan ilmu pengetahuan tanah air. Berikut penuturan Haryo kepada Ardyan Mohamad Erlangga dari merdeka.com lewat Skype, Sabtu (7/7), di sela-sela mengisi seminar fisika Internasional, di Kota Melbourne, Australia:
Informasi soal latar belakang anda sulit dicari, apa sebabnya?
Saya
memang tidak terlalu suka membahas itu. Saya orangnya itu yang penting
apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak berasal dari antah-berantah. Saya
benar-benar dari Indonesia.
Bisa diceritakan sedikit saja kepada pembaca soal latar belakang anda?
Saya
lahir di Kabupaten Singaraja Bali 36 tahun lalu. Ayah saya pegawai
negeri, ibu seorang ibu rumah tangga. Kemudian keluarga saya pindah ke
Jakarta. SD, SMP, SMA, sampai kuliah saya tamatkan di ibu kota.
Mengapa tertarik mempelajari fisika?
Ketertarikan
saya pada fisika sudah sejak lama, terutama bidang fisika partikel
eksperimental. Alasan lain karena di Indonesia sangat sedikit yang
menggeluti. Hanya ada lima pakar fisika ini, satu orang seangkatan
dengan saya.
Keluarga mendukung karir anda sekarang di CERN?
Keluarga sangat mendukung kegiatan saya. Sejak sekolah menengah dulu.
Mereka tahu anda sedang mencari partikel Tuhan?
Keluarga tidak banyak bertanya, tapi mereka tahu apa yang saya lakukan penting dan punya misi ilmiah.
Apakah penelitian partikel itu bisa bermanfaat buat orang banyak?
Di
CERN, saya membuat partikel detektor. Hampir semua teknologi untuk
membangun detektor partikel ini bisa digunakan di bidang lain. Teknologi
nano di detektor, misalnya, bisa juga digunakan buat mendeteksi kanker.
Tidak ada keinginan kembali ke Indonesia?
Ada,
tapi bagaimana mau pulang kalau tidak ada tempat mengabdi di Indonesia.
Saya tidak mau menunggu momen. Makanya pada Juni kemarin saya dan
beberapa kolega berhasil mengajak Kementerian Riset dan Teknologi,
sepengetahuan Kementerian Luar Negeri pula, menggelar kunjungan resmi
CERN. (pada 26-28 Juni lalu, pejabat teras CERN, Profesor Emmanuel
Tsesmelis berkunjung ke Indonesia ke LIPI dan beberapa kampus negeri).
Bapak menteri (Menteri Negara Gusti Muhammad Hatta) pun mendukung untuk
di masa depan diadakan kerja sama antara Indonesia dan CERN. Penelitian
saya mungkin belum aplikatif buat rakyat dalam waktu dekat ya. Tapi
menurut saya kerja sama Indonesia dengan CERN nanti akan ada imbas
teknologi terapan yang akan datang dengan sendirinya.
Ada tips agar peneliti Indonesia bisa seperti Anda?
Buat
saya, pertama, fisikawan tanah air harus mengembangkan cakrawala
berpikir. Dia harus tahu hubungan fisika terhadap bidang lain. Kedua
komunikasi dengan penyandang dana. Di Indonesia belum berkembang
paradigma ini. Idealnya dana penelitian itu bukan hak tapi privilege,
sebuah hal yang harus diperjuangkan dan harus dibuktikan kegunaannya,
entah dengan pihak Kemristek atau DPR sebagai pemberi dana. Sebab
penelitian ilmiah di negara ini sebagian besar pakai uang rakyat.
Apa harapan anda buat kemajuan Indonesia?
(Di
CERN) saya tidak dihitung dari Indonesia, karena direkrut sebagai
lulusan Universitas California of Riverside. Selain saya, ada juga warga
Indonesia yang terlibat di CERN, namanya Rahmat. Dia rekan seangkatan
saya. Seandainya ada lebih banyak orang Indonesia yang aktif bergiat di
bidang fisika partikel. Di Asia Tenggara baru Vietnam dan Thailand yang
tercatat ikut program CERN ini. Tidak perlu banyak-banyak, minimal
tambah lima orang lagi menggeluti bidang ini, yang penting konsisten dan
berkesinambungan.
Pusat Penelitian Nuklir Eropa (CERN) pada 4 Juli lalu mengumumkan
keberhasilan menemukan partikel Higgs-boson. Zat ini kerap disebut
'Partikel Tuhan' lantaran disebut bisa membantu manusia menjelaskan
asal-usul alam semesta. Para ilmuwan sedunia bersorak dan menyebut
revolusi ilmu pengetahuan terjadi.
Di balik hingar bingar
penemuan ini, ternyata ada dua peneliti asal Indonesia ikut
berpartisipasi di antara enam ribu lebih ilmuwan di CERN. Salah satunya
adalah Suharyo Sumowidagdo, ilmuwan lulusan Universitas Indonesia yang
menempuh studi tingkat doktoral di University of California Riverside,
Amerika Serikat.
Pria yang akrab disapa Haryo ini merancang
perangkat lunak buat memantau partikel Higgs-boson di Laboratorium CERN,
Kota Jenewa, Swiss, sejak empat tahun lalu. Peneliti berotak encer ini
menempuh pendidikan dasar sampai kuliah di Jakarta, meski mengaku
numpang lahir di Kabupaten Singaraja, Bali, 36 tahun lalu.
Informasi
mengenai data pribadi Haryo sulit dicari di Internet. Hal ini diakui
olehnya. Pengelola situs penggemar fisika ini mengaku tidak terlalu suka
bercerita soal pribadi.
Setelah melalui penelusuran, Ardyan Mohamad Erlangga dari merdeka.com berhasil mewancarainya lewat skype. Berikut wawancara lengkap dengan Suharyo.
Pada 4 Juli lalu CERN bilang menemukan boson, tapi belum tentu Higgs-boson, maksudnya?
Higgs-boson
itu nama generik, bentuk manifestasi sederhananya hanya satu. Namun
dalam teori lanjutan bisa lebih dari satu. Jadi pertanyaannya apakah
yang ditemukan kemarin cuma satu-satunya atau masih ada teman-temannya.
Harus dicari. Makanya penelitian ini belum selesai, baru awal.
Kenapa partikel ini disebut sigma tingkat lima?
Itu
suatu konsep statistika yang menunjukkan derajat keyakinan. Jadi temuan
kami yang disebut sigma tingkat lima itu kemungkinan salahnya 1:3,5
juta, cukup meyakinkan. Jadi partikel itu betul-betul ditemukan,
benar-benar ada, bukan sekadar derau. Kita menemukan sesuatu, bukan
fluktuasi atau kesalahan detektor.
Mengapa selama ini ilmuwan tidak bisa menemukan Higgs-Boson?
Higgs
Boson ini keluarga yang belum ditemukan jadi ada formulasi fisika
partikel namanya standar model. Dari teori ini partikel Higgs-Boson
harusnya ada, tapi tidak ditemukan.
Higgs-Boson dulu belum
ditemukan karena ada besaran massa tidak diketahui. Faktor lain,
partikel ini hidupnya tidak panjang. Dia langsung meluruh sehingga susah
dibedakan dengan partikel lain. Barulah dengan LHC (terowongan penumbuk
partikel) bisa dibedakan mana partikel biasa dan mana Higgs-boson. Data
yang dilansir CERN pada 4 Juli kemarin, dikumpulkan selama 2011 hingga
separuh 2012.
Selama 40 tahun orang sudah menemukan semua
partikel, kecuali Higgs-boson. Setelah dicari-cari baru ditemukan
sekarang. Itupun baru awal. Makanya ini suatu pencapaian yang luar
biasa.
Selama puluhan tahun tidak ditemukan, kenapa ilmuwan yakin partikel semacam itu ada?
Berdasarkan
teori fisika partikel model standar, seluruh partikel sudah ketemu, dan
seharusnya ada Higgs-boson. Analoginya begini, saya melihat seseorang
di balik pohon, tapi saya cuma melihat bahunya, kakinya. Saya simpulkan
pasti sosok ini punya kepala. Itu mengapa ilmuwan yakin partikel
tersebut ada.
Apa yang bisa dilakukan ilmuwan setelah Higgs-boson ditemukan?
Terus
terang kalau aplikasi praktis belum ada yang mengetahuinya. Penemuan
ini adalah penjelasan suatu hal yang sebelumnya tidak diketahui. Namun
dari pandangan sains murni, partikel Higgs-boson menjelaskan banyak hal.
Misalnya, kenapa partikel yang kita lihat sekarang bentuknya seperti
itu, mengapa alam semesta berkembang seperti sekarang, mengapa atom itu
bisa meluruh, semacam itu.
Menurut Anda apakah penelitian seperti ini berupaya menyingkap rahasia Tuhan?
Sains
tidak memberi tempat buat Tuhan. Ilmu ini hanya melihat gejala di alam,
lantas kita coba menjelaskannya. Itu ciptaan Tuhan atau bukan, tidak
menjadi wilayah kajian kami.
Sains itu meneliti alam, titik.
Sains menjelaskan apa yang ada di alam. Kalau kemudian ada yang
menyimpulkan alam semesta ini ciptaan Tuhan, itu hak orang beragama.
Saya rasa cukup begitu saja menjelaskannya.
Kalau saya menemukan
sesuatu tentang alam semesta, saya bilang ini dari Tuhan. Saya cuma
menemukan saja kok. Apa yang saya katakan ini memang ada, tidak
mengada-ada kok.
Jadi, konsep Tuhan tidak perlu dikaitkan dengan penelitian ini?
Buat
saya pribadi Tuhan dan alam semesta itu satu. Bukan dua entitas
berbeda. Konsep Tuhan diciptakan untuk menjelaskan sesuatu yang belum
terjelaskan.
Kalau begitu, istilah 'Partikel Tuhan' yang digunakan media keliru?
Peneliti
sih tidak menggunakan istilah itu. Tapi memang istilah ini menarik
perhatian. Sebetulnya tidak apa-apa asal dijelaskan asal-usulnya.
Istilah 'partikel Tuhan' kan sebetulnya dari buku fisikawan pemenang
Nobel Leon Lederman (terbit 1993). Dalam buku itu dia sebetulnya
menyebut higgs-boson sebagai 'the God-like particle', tapi editor
bukunya mengganti jadi 'god particle'. Istilah ini akhirnya nyangkut
sampai sekarang.
Informasi soal latar belakang anda sulit dicari, apa sebabnya?
Saya
memang tidak terlalu suka membahas itu. Saya orangnya itu yang penting
apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak berasal dari antah-berantah. Saya
benar-benar dari Indonesia.
Bisa diceritakan sedikit saja kepada pembaca soal latar belakang Anda?
Saya
lahir di Kabupaten Singaraja Bali 36 tahun lalu. Ayah saya pegawai
negeri, ibu seorang ibu rumah tangga. Kemudian keluarga saya pindah ke
Jakarta. SD, SMP, SMA, sampai kuliah saya tamatkan di ibu kota.
Mengapa tertarik mempelajari fisika?
Ketertarikan
saya pada fisika sudah sejak lama, terutama bidang fisika partikel
eksperimental. Alasan lain karena di Indonesia sangat sedikit yang
menggeluti. Hanya ada lima pakar fisika ini, satu orang seangkatan
dengan saya.
Keluarga mendukung karir anda sekarang di CERN?
Keluarga sangat mendukung kegiatan saya. Sejak sekolah menengah dulu.
Mereka tahu anda sedang mencari partikel Tuhan?
Keluarga tidak banyak bertanya, tapi mereka tahu apa yang saya lakukan penting dan punya misi ilmiah.
Apakah penelitian partikel itu bisa bermanfaat buat orang banyak?
Di
CERN, saya membuat partikel detektor. Hampir semua teknologi untuk
membangun detektor partikel ini bisa digunakan di bidang lain. Teknologi
nano di detektor, misalnya, bisa juga digunakan buat mendeteksi kanker.
Tidak ada keinginan kembali ke Indonesia?
Ada,
tapi bagaimana mau pulang kalau tidak ada tempat mengabdi di Indonesia.
Saya tidak mau menunggu momen. Makanya pada Juni kemarin saya dan
beberapa kolega berhasil mengajak Kementerian Riset dan Teknologi,
sepengetahuan Kementerian Luar Negeri pula, menggelar kunjungan resmi
CERN. (pada 26-28 Juni lalu, pejabat teras CERN, Profesor Emmanuel
Tsesmelis berkunjung ke Indonesia ke LIPI dan beberapa kampus negeri).
Bapak menteri (Menteri Negara Gusti Muhammad Hatta) pun mendukung untuk
di masa depan diadakan kerja sama antara Indonesia dan CERN. Penelitian
saya mungkin belum aplikatif buat rakyat dalam waktu dekat ya. Tapi
menurut saya kerja sama Indonesia dengan CERN nanti akan ada imbas
teknologi terapan yang akan datang dengan sendirinya.
Ada tips agar peneliti Indonesia bisa seperti Anda?
Buat
saya, pertama, fisikawan tanah air harus mengembangkan cakrawala
berpikir. Dia harus tahu hubungan fisika terhadap bidang lain. Kedua
komunikasi dengan penyandang dana. Di Indonesia belum berkembang
paradigma ini. Idealnya dana penelitian itu bukan hak tapi privilege,
sebuah hal yang harus diperjuangkan dan harus dibuktikan kegunaannya,
entah dengan pihak Kemristek atau DPR sebagai pemberi dana. Sebab
penelitian ilmiah di negara ini sebagian besar pakai uang rakyat.
Apa harapan anda buat kemajuan Indonesia?
(Di
CERN) saya tidak dihitung dari Indonesia, karena direkrut sebagai
lulusan Universitas California of Riverside. Selain saya, ada juga warga
Indonesia yang terlibat di CERN, namanya Rahmat. Dia rekan seangkatan
saya. Seandainya ada lebih banyak orang Indonesia yang aktif bergiat di
bidang fisika partikel. Di Asia Tenggara baru Vietnam dan Thailand yang
tercatat ikut program CERN ini. Tidak perlu banyak-banyak, minimal
tambah lima orang lagi menggeluti bidang ini, yang penting konsisten dan
berkesinambungan.